"Investasi dalam bentuk besar (di India), tidak ada transparansinya," tukas Piramal singkat dalam wawancaranya dengan Associated Press, Rabu (28/12/2011).
Showing posts with label Budidaya Kelapa Sawit. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Kelapa Sawit. Show all posts
Wednesday, December 28, 2011
Terlalu Kaya, Miliuner India Bingung Buang Uang ke Mana
MUMBAI - Ajay Piramal tampak terlihat "duduk" di antara tumpukan uang tunai. Ajay, dikenal sebagai orang yang berperan besar dalam mengembangkan ekonomi negeri Taj Mahal itu.
Namun, miliuner India ini bingung apa yang akan dilakukan dengan uang yang dimilikinya tersebut. Masalahnya, bukanlah kesempatan dalam berinvestasi. Dia menuturkan, permasalahannya adalah, "Ini India."
"Investasi dalam bentuk besar (di India), tidak ada transparansinya," tukas Piramal singkat dalam wawancaranya dengan Associated Press, Rabu (28/12/2011).
"Investasi dalam bentuk besar (di India), tidak ada transparansinya," tukas Piramal singkat dalam wawancaranya dengan Associated Press, Rabu (28/12/2011).
Thursday, December 8, 2011
Potensi Bisnis Kelapa Sawit Di Kalimantan
Pulau Kalimantan memang dianugerahi berbagai macam sumber daya alamnya dan lahan perkebunan yang luas. Kelapa sawit salah satunya. Usaha perkebunan kelapa sawit merupakan potensi bisnis perkebunan kalimantan yang sangat menguntungkan. Kelapa sawit sangat bermanfaat mulai dari industri makanan sampai industri kimia.
Industri makanan mentega, shortening, coklat, additive, ice cream, pakan ternak, minyak goreng, produk obat–obatan dan kosmetik, krim, shampoo, lotion, pomade, vitamin and beta carotene juga memerlukan minyak sawit.
Industri berat dan ringan, industri kulit (untuk membuat kulit halus dan lentur dan tahan terhadap tekanan tinggi atau temperatur tinggi), cold rolling and fluxing agent pada industri perak, dan juga sebagai bahan pemisah dari material cobalt dan tembaga di industri logam juga membutuhkan bahan baku dari hasil kelapa sawit.
Bahkan minyak sawit dibutuhkan juga untuk industri kimia seperti detergen, sabun, dan minyak. Sisa-sisa dari industri minyak sawit dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler, bahan semir furniture, bahan anggur.
Produk Utama Kelapa Sawit
Produk turunan CPO bisa dipasarkan untuk perusahaan yang memproduksi minyak goreng kelapa sawit, margarine, shortening, vanaspati (Vegetable ghee), ice creams, bakery fats, instans noodle, sabun dan detergent, cocoa butter extender, chocolate dan coatings, specialty fats, dry soap mixes, sugar confectionary, biskuit cream fats, filled milk, lubrication, textiles oils dan bio diesel.
Produk turunan minyak inti sawit bisa dipasarkan untuk perusahaan yang memproduksi shortening, cocoa butter substitute, specialty fats, ice cream, coffee whitener/cream, sugar confectionary, biscuit cream fats, filled mild, imitation cream, sabun, detergent, shampoo dan kosmetik.
Ampas Tandan Kelapa Sawit Bisa Dimanfaatkan
Selain minyaknya, ampas tandan kelapa sawit merupakan sumber pupuk kalium dan berpotensi untuk diproses menjadi pupuk organik melalui fermentasi (pengomposan) aerob dengan penambahan mikroba alami yang akan memperkaya pupuk yang dihasilkan.
Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pupuk organik, pupuk kompos maupun pupuk kalium. Fungsi lain TKKS juga sebagi bahan serat untuk bahan pengisi jok mobil dan matras, dan polipot.
Pelepah pohon dan CPO dapat dijadikan ekstrak untuk Vitamin E. Batang pohon dapat dijadikan “fiber board” untuk bahan baku mebel, kursi, meja, lemari dan sebagainya. Ampas tandan/buangan sisa pabrik dapat dijadikan serbuk pengisi kasur, bantalan kursi, dan sebagainya.
Pasar Kelapa Sawit
Secara historis pertumbuhan produksi minyak sawit dunia selama dua dasawarsa terakhir ini mengalami kenaikan sekitar 7,3% pertahun. Perkembangan minyak sawit dunia ini sangat dipengaruhi oleh produksi minyak sawit dari negara Malaysia dan Indonesia yang memberikan kontribusi sebesar 80% dari produksi dunia.
Berdasarkan data Oil Word diperkirakan produksi CPO lima tahun ke depan akan meningkat tapi lebih kecil dibandingkan dengan konsumsi masyarakat dunia. Tingkat produksi CPO dunia masih dikuasai oleh Malaysia dengan pengusaan 50% market dunia, sedangkan Indonesia berada pada tingkat kedua dengan 30% penguasaan market dunia. Saat ini Indonesia dan Malaysia merupakan produsen utama CPO dunia dengan menguasai lebih dari 80% pangsa pasar.
Negara-negara produsen lainnya, seperti Nigeria, Kolombia, Thailand, Papua Nugini, dan bahkan Pantai Gading, boleh dibilang hanya menjadi pelengkap. Malaysia menempati peringkat teratas dengan volume produksi pada 2003 mencapai 13,35 juta ton. Sementara Indonesia masih 9,75 juta ton. Menurut ramalan Oil World, volume produksi CPO Indonesia pada 2010 bakal mencapai 12 juta ton.
Namun, agaknya ramalan itu bakal meleset. Sebab, pada 2004 saja volume produksi CPO Indonesia sudah mencapai 11,5 juta ton. Itu sebabnya banyak kalangan optimis volume produksi CPO Indonesia bakal segera mengalahkan Malaysia, terlebih jika melihat luas lahan di Malaysia yang kian terbatas, sementara di Indonesia masih begitu luas.
Produksi minyak sawit (CPO) di dalam negeri diserap oleh industri pangan terutama industri minyak goreng dan industri non pangan seperti industri kosmetik dan farmasi. Namun, potensi pasar paling besar adalah industri minyak goreng.
Potensi tersebut terlihat dari semakin bertambahnya jumlah penduduk yang berimplikasi pada pertambahan kebutuhan pangan terutama minyak goreng. Sampai tahun 1997 produksi minyak goreng Indonesia baru mencapai 3,1 juta ton dengan kontribusi minyak goreng sawit 2,3 juta ton (74 %). Kebutuhan untuk memproduksi minyak goreng sawit sebesar itu memerlukan 3,3 juta ton minyak sawit.
Penetapan Harga
Pada dasarnya, ada 2 kekuatan besar yang berpengaruh pada pembentukan harga komoditas kelapa sawit, yaitu kekuatan pasar (marketing forces) dan pengendalian oleh pemerintah (government intervention).
Dengan demikian, penetapan harga kelapa sawit didasarkan pada kekuatan pasar, tingkat persaingan dan juga pengendalian pemerintah. Setelah itu penetapan harga kelapa sawit harus disesuaikan dengan harga jual dalam dan luar negeri, dengan perincian sebagai berikut:
1. Harga jual dalam negeri.
Kedudukan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku minyak goreng yang merupakan 9 bahan pokok menyebabkan pemerintah tidak berlepas tangan. Disini perusahaan perkebunan kelapa sawit berhadapan dengan pihak prosesor, yang oleh pemerintah sudah ditentukan bahwa harga jual produksi prosesor dalam bentuk minyak goreng harus terjangkau oleh rakyat, sehingga mau tidak mau perusahaan harus menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah tersebut.
2. Harga jual luar negeri.
Penetapan harga dilakukan dengan cara open tender atau dengan cara competitive bidding. Demi kelancaran perluasan pasar dan pengamanan terhadap risiko sengketa, risiko claim, atau hal-hal lain yang dapat merugikan, dalam kontrak penjualan akan menggunakan ketentuan yang telah diatur oleh International Trade Association (Asosiasi Komoditi International). Dengan adanya faktor-faktor penetapan harga tersebut diatas, perusahaan kelak akan terus meneruskan melakukan penghematan biaya produksi guna menghasilkan marjin laba yang signifikan
Risiko Bisnis Perkebunan Kelapa Sawit
1. Pencurian Hasil Panen
Lahan budidaya yang luas dan jumlah kelapa sawit yang banyak mengakibatkan susahnya pengawasan dan pengontrolan. Pencurian dan penjarahan hasil panen selalu saja terjadi. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu adanya pengamanan yang ekstra. Tetapi untuk merealisasikan hal tersebut dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.
2. Gagal Panen
Penyakit dalam bentuk jamur, gulma dan hama yang menyerang pada perkebunan kelapa sawit sangat sulit dihilangkan dan bisa menular ke seluruh areal perkebunan, sehingga mengakibatkan gagal panen.
3. Harga yang Naik Turun
Harga pasar sewaktu-waktu dapat naik dan turun karena kelapa sawit merupakan komoditas yabg harganya mengikuti pasar di dunia dan kebijakan pemerintah. Hal ini bisa berdampak bagi siapapun yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit.
Sumber : bisnisukm.com
Industri makanan mentega, shortening, coklat, additive, ice cream, pakan ternak, minyak goreng, produk obat–obatan dan kosmetik, krim, shampoo, lotion, pomade, vitamin and beta carotene juga memerlukan minyak sawit.
Industri berat dan ringan, industri kulit (untuk membuat kulit halus dan lentur dan tahan terhadap tekanan tinggi atau temperatur tinggi), cold rolling and fluxing agent pada industri perak, dan juga sebagai bahan pemisah dari material cobalt dan tembaga di industri logam juga membutuhkan bahan baku dari hasil kelapa sawit.
Bahkan minyak sawit dibutuhkan juga untuk industri kimia seperti detergen, sabun, dan minyak. Sisa-sisa dari industri minyak sawit dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler, bahan semir furniture, bahan anggur.
Produk Utama Kelapa Sawit
Produk turunan CPO bisa dipasarkan untuk perusahaan yang memproduksi minyak goreng kelapa sawit, margarine, shortening, vanaspati (Vegetable ghee), ice creams, bakery fats, instans noodle, sabun dan detergent, cocoa butter extender, chocolate dan coatings, specialty fats, dry soap mixes, sugar confectionary, biskuit cream fats, filled milk, lubrication, textiles oils dan bio diesel.
Produk turunan minyak inti sawit bisa dipasarkan untuk perusahaan yang memproduksi shortening, cocoa butter substitute, specialty fats, ice cream, coffee whitener/cream, sugar confectionary, biscuit cream fats, filled mild, imitation cream, sabun, detergent, shampoo dan kosmetik.
Ampas Tandan Kelapa Sawit Bisa Dimanfaatkan
Selain minyaknya, ampas tandan kelapa sawit merupakan sumber pupuk kalium dan berpotensi untuk diproses menjadi pupuk organik melalui fermentasi (pengomposan) aerob dengan penambahan mikroba alami yang akan memperkaya pupuk yang dihasilkan.
Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pupuk organik, pupuk kompos maupun pupuk kalium. Fungsi lain TKKS juga sebagi bahan serat untuk bahan pengisi jok mobil dan matras, dan polipot.
Pelepah pohon dan CPO dapat dijadikan ekstrak untuk Vitamin E. Batang pohon dapat dijadikan “fiber board” untuk bahan baku mebel, kursi, meja, lemari dan sebagainya. Ampas tandan/buangan sisa pabrik dapat dijadikan serbuk pengisi kasur, bantalan kursi, dan sebagainya.
Pasar Kelapa Sawit
Secara historis pertumbuhan produksi minyak sawit dunia selama dua dasawarsa terakhir ini mengalami kenaikan sekitar 7,3% pertahun. Perkembangan minyak sawit dunia ini sangat dipengaruhi oleh produksi minyak sawit dari negara Malaysia dan Indonesia yang memberikan kontribusi sebesar 80% dari produksi dunia.
Berdasarkan data Oil Word diperkirakan produksi CPO lima tahun ke depan akan meningkat tapi lebih kecil dibandingkan dengan konsumsi masyarakat dunia. Tingkat produksi CPO dunia masih dikuasai oleh Malaysia dengan pengusaan 50% market dunia, sedangkan Indonesia berada pada tingkat kedua dengan 30% penguasaan market dunia. Saat ini Indonesia dan Malaysia merupakan produsen utama CPO dunia dengan menguasai lebih dari 80% pangsa pasar.
Negara-negara produsen lainnya, seperti Nigeria, Kolombia, Thailand, Papua Nugini, dan bahkan Pantai Gading, boleh dibilang hanya menjadi pelengkap. Malaysia menempati peringkat teratas dengan volume produksi pada 2003 mencapai 13,35 juta ton. Sementara Indonesia masih 9,75 juta ton. Menurut ramalan Oil World, volume produksi CPO Indonesia pada 2010 bakal mencapai 12 juta ton.
Namun, agaknya ramalan itu bakal meleset. Sebab, pada 2004 saja volume produksi CPO Indonesia sudah mencapai 11,5 juta ton. Itu sebabnya banyak kalangan optimis volume produksi CPO Indonesia bakal segera mengalahkan Malaysia, terlebih jika melihat luas lahan di Malaysia yang kian terbatas, sementara di Indonesia masih begitu luas.
Produksi minyak sawit (CPO) di dalam negeri diserap oleh industri pangan terutama industri minyak goreng dan industri non pangan seperti industri kosmetik dan farmasi. Namun, potensi pasar paling besar adalah industri minyak goreng.
Potensi tersebut terlihat dari semakin bertambahnya jumlah penduduk yang berimplikasi pada pertambahan kebutuhan pangan terutama minyak goreng. Sampai tahun 1997 produksi minyak goreng Indonesia baru mencapai 3,1 juta ton dengan kontribusi minyak goreng sawit 2,3 juta ton (74 %). Kebutuhan untuk memproduksi minyak goreng sawit sebesar itu memerlukan 3,3 juta ton minyak sawit.
Penetapan Harga
Pada dasarnya, ada 2 kekuatan besar yang berpengaruh pada pembentukan harga komoditas kelapa sawit, yaitu kekuatan pasar (marketing forces) dan pengendalian oleh pemerintah (government intervention).
Dengan demikian, penetapan harga kelapa sawit didasarkan pada kekuatan pasar, tingkat persaingan dan juga pengendalian pemerintah. Setelah itu penetapan harga kelapa sawit harus disesuaikan dengan harga jual dalam dan luar negeri, dengan perincian sebagai berikut:
1. Harga jual dalam negeri.
Kedudukan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku minyak goreng yang merupakan 9 bahan pokok menyebabkan pemerintah tidak berlepas tangan. Disini perusahaan perkebunan kelapa sawit berhadapan dengan pihak prosesor, yang oleh pemerintah sudah ditentukan bahwa harga jual produksi prosesor dalam bentuk minyak goreng harus terjangkau oleh rakyat, sehingga mau tidak mau perusahaan harus menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah tersebut.
2. Harga jual luar negeri.
Penetapan harga dilakukan dengan cara open tender atau dengan cara competitive bidding. Demi kelancaran perluasan pasar dan pengamanan terhadap risiko sengketa, risiko claim, atau hal-hal lain yang dapat merugikan, dalam kontrak penjualan akan menggunakan ketentuan yang telah diatur oleh International Trade Association (Asosiasi Komoditi International). Dengan adanya faktor-faktor penetapan harga tersebut diatas, perusahaan kelak akan terus meneruskan melakukan penghematan biaya produksi guna menghasilkan marjin laba yang signifikan
Risiko Bisnis Perkebunan Kelapa Sawit
1. Pencurian Hasil Panen
Lahan budidaya yang luas dan jumlah kelapa sawit yang banyak mengakibatkan susahnya pengawasan dan pengontrolan. Pencurian dan penjarahan hasil panen selalu saja terjadi. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu adanya pengamanan yang ekstra. Tetapi untuk merealisasikan hal tersebut dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.
2. Gagal Panen
Penyakit dalam bentuk jamur, gulma dan hama yang menyerang pada perkebunan kelapa sawit sangat sulit dihilangkan dan bisa menular ke seluruh areal perkebunan, sehingga mengakibatkan gagal panen.
3. Harga yang Naik Turun
Harga pasar sewaktu-waktu dapat naik dan turun karena kelapa sawit merupakan komoditas yabg harganya mengikuti pasar di dunia dan kebijakan pemerintah. Hal ini bisa berdampak bagi siapapun yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit.
Sumber : bisnisukm.com
Struktur Biaya Perkebunan Kelapa Sawit
Struktur Biaya pada perkebunan Kelapa Sawit adalah demikian pentingnya, sebab hanya struktur biaya yang dikelola dan dikontrol dengan tepat , usaha perkebunan akan memperoleh hasil keuntungan yang lebih baik.
Sistim akuntansi yang digunakan di perkebunan kelapa sawit, umumnya menguraikan Biaya Produksi kedalam beberapa Kategori Biaya, yang mana setiap kategori biaya dibagi dalam beberapa Group Biaya. Adapun Group biaya itu sendiri terdiri atas beberapa Komponen Biaya yang merupakan sejumlah Elemen Biaya sebagai dasar perhitungan pengeluaran biaya real. Secara skematis uraian Biaya Produksi perkebunan kelapa sawit tersebut dapat dilihat pada halaman berikut ini.
Terdapat tiga kelompok Kategori Biaya, yaitu Ex-Factory Cost, Cash Cost dan Book Cost. Gross Profit Before Tax dihitung dari Net sales dikurangi Book Cost.
Penguraian Biaya Produksi menjadi Komponen Biaya ditujukan untuk meng identifikasi berbagai biaya agar dapat dijadikan pedoman bagi perencanaan Budget dan Akuntansi serta membuat terbentuknya sistim kontrol yang efektif pada management biaya.
1. Elemen Biaya Produksi
Semua komponen biaya produksi selalu meliputi tiga prinsip elemen biaya, yakni Upah Tenaga Kerja biasa dilakukan melalui mekanisme PK (PK – Perintah Kerja), Biaya Material dilakukan melalui mekanisme PO (PO – Purchase Order) dan Proporsi atas pembebanan Biaya Angkutannya.
Setiap biaya per komponen akan bervariasi tergantung kepada besarnya biaya rata-rata upah buruh, jumlah material yang digunakan sesuai harga yang berlaku saat itu dan besarnya biaya angkutan. Ketiga elemen tersebut benar-benar menjadi dasar terjadinya variasi dalam biaya produksi.
Komponen & Element Biaya
Katagori Biaya | Kelompok Biaya | Komponen Biaya | Elemen Biaya |
Ex-Factory Cost | · Perawatan Kebun | - Pembasmian Lalang | - Upah termasuk Tunjangan dan Lembur - Harga Material - Angkutan Tenaga kerja & Material |
- Pengendalian Gulma | |||
- Pemupukan | |||
- Pangkas Pelepah | |||
- Rawat Infrastruktur | |||
- Pengendalian Hama & Penyakit | |||
· Panen | - Alat Panen | ||
- Angkutan TBS | |||
- Perawatan TPH | |||
· Pabrik | - Pengolahan TBS | ||
- Pemeliharaan Alat & Mesin | |||
- Pemeliharaan Bangunan Pabrik | |||
- Laboratorium | |||
- Penanganan Limbah | |||
- Pengolahan Air Baku Pabrik | |||
· Umum Kebun (Biaya per ha sejak tanam, TBM dan TM) | - Tunjangan Kesehatan dan Tunjangan Sosial | ||
- Asuransi | |||
- Pensiun | |||
- Supervisi | |||
- Gaji Staff | |||
- Pemeliharaan Fasilitas Perumahan & Bangunan Kantor | |||
- Komunikasi | |||
- Pajak & Kontribusi | |||
Cash Cost | · Biaya Pemasaran (FOB) | - Biaya Angkutan CPO dari Pabrik ke Pelabuhan | |
- Biaya Pengapalan | |||
- Asuransi | |||
· Overhead Kantor Pusat | - Gaji dan Tunjangan | ||
- Pensiun | |||
- Administrasi Kantor | |||
- Tunjangan Kesehatan & Sosial | |||
- Pemeliharaan Bangunan Kantor | |||
- Asuransi | |||
- Komunikasi | |||
- Pajak & Kontribusi | |||
- Konsultan | |||
Book Cost | · Depresiasi | - Semua Asset berdasarkan kelasnya | |
a Upah Tenaga Kerja
Biaya upah tenaga kerja di perkebunan terdiri atas upah Buruh Harian , Upah Buruh Bulanan dan Upah Borong. Dasar perhitungan upah buruh diperoleh dari kebijakan pemerintah tentang Upah Minimum Propinsi (UMP) dengan kenaikan tahunan rata-rata 9 – 12 persen, ditambah rasio Tunjangan Catu Beras, yang ditetapkan sebesar 15 kg bagi pekerja per bulan, 9 kg per bulan untuk istri dan 7,5 kg per bulan untuk anak, dengan pembatasan jumlah anak 3 orang.
Harga dasar beras ditetapkan oleh pemerintah dengan kenaikan rata rata 5 – 7 persen setiap tahunnya. Selain daripada itu, pekerja juga memperoleh tambahan yang disebut Fringe Benefit yang terdiri atas Premi, Lembur, jaminan kesehatan dan sosial, sehingga gaji yang dibayarkan kepada buruh, besarnya dapat bervariasi sesuai skala upah , antara 110 hingga 400 persen dari upah pokoknya hariannya . Selain daripada itu, pekerja juga akan memperoleh tunjangan satu bulan gaji tambahan setiap tahun sebagai Tunjangan Hari Raya.
Contoh Cara Perhitungan Upah Tenaga Kerja
Upah | Rp / HK | Rp./Bln |
1. UMK (yang berlaku) | 32,000.0 | 960,000.0 |
2. Premi Dan Lembur | 6,400.0 | 160,000.0 |
3. Tunjangan Kesehatan & Biaya Sosial | 3,200.0 | 80,000.0 |
4. Tunjangan Catu Beras | 11,160.0 | 279,000.0 |
TOTAL UPAH | 52,760.0 | 1,319,000.0 |
Catatan :
Premi dan Lembur | = 20 % dari UMK |
Sub total | = Rp. 6.400 |
Tunjangan Kesehatan & Biaya Sosial | = 10 % dari UMK |
Sub total | = Rp. 3.200 |
Tunjangan Catu Beras | |
Pekerja | = 15,0 kg |
Istri | = 9,0 kg |
Anak (Maksimum 3 anak ) | = 7,5 kg x 3 = 22,5 kg |
Total beras | = 46,5 kg |
Asumsi Harga Beras | = Rp 6.000 per kg |
Tunjangan Catu Beras per bulan | = Rp. 279.000 |
Per Hari Sub total | = Rp. 11.160 |
(1 bulan = 25 hari kerja) |
Dalam perhitungan Budget, semua tunjangan harus di tambahkan sebagai bagian dari sub komponen upah
b Ratio Tenaga Kerja terhadap luas Lahan
Secara detil, ratio tenaga kerja terhadap luas lahan harus dihitung di setiap kategori kegiatan pada Tanaman Menghasilkan (TM), yang terdiri dari Rawat, Panen, Biaya Umum; dengan menjumlahkan upah pokok semua tenaga kerja pada setiap kategori sehingga diperoleh angka Total Gaji Tenaga Kerja.
Untuk kemudian dihitung Upah Rata-Rata dengan membagi Total Gaji Tenaga Kerja yang dibayar dengan jumlah Tenaga Kerjanya.
Seluruh pembayaran fringe benefit tenaga kerja untuk kemudian dirubah menjadi jumlah Mandays atau Hari Kerja Orang (HK) dengan cara membagi Total Fringe Benefit dengan Upah Rata Rata.
Sama halnya dengan Pembayaran pada setiap Kontraktor harus di rubah menjadi HK, dengan cara ; total nilai pembayaran kepada semua Kontraktor dibagi dengan Upah Rata-Rata
Tabel Ratio Tenaga Kerja per Ha Luas Lahan
KATAGORI | HARIAN TETAP HK/Ha | HARIAN LEPAS HK/Ha | TOTAL HK/Ha |
RAWAT | |||
A. Pokok | |||
B. Premi/Lembur | |||
C. Kontraktor | |||
PANEN | |||
A. Pokok | |||
B. Premi/Lembur | |||
C. Kontraktor | |||
UMUM | |||
A. Pokok | |||
B. Premi/Lembur | |||
C. Kontraktor | |||
TOTAL | |||
A. Pokok | |||
B. Premi/Lembur | |||
C. Kontraktor | |||
GRAND TOTAL |
Variasi ratio tenaga kerja per perkebunan per tahun pada setiap kategori pekerjaan dipengaruhi oleh Volume Pekerjaan, tersedianya Material, Tingkat Produksi dan tersedianya Alat Berat atau peralatan lainnya.
Sebagai contoh, pekerjaan Rawat dapat bervariasi karena besar-kecilnya jumlah material pupuk yang di aplikasikan di lapangan, atau adanya tindakan pengendalian khusus karena serangan hama.
Sementara jumlah tenaga panen selalu melekat pada kegiatan panen dan tenaga pabrik selalu proposional pada level produksi yang dihasilkan.
Jumlah gaji yang dibayarkan setiap bulan kepada pekerja, relatif konstan, perbedaan kecil bisa saja terjadi di pekerjaan rawat dan umum, namun kelompok ini masuk sebagai kelompok Biaya Tetap (Fixed Costs). Sementara jumlah tenaga kerja panen dan pabrik ber fluktuasi seirama dengan volume produksi dan dimasukkan sebagai Variable atau Semi-Variable Costs.
1. Harga Material
1. Harga Material
Harga material selalu naik setiap tahun, dengan variasi yang berbeda-beda untuk setiap jenis material bergantung kepada beberapa hal umum seperti :
· Material yang paling mempengaruhi biaya Rawat adalah Pupuk, yang secara bertahap
terus naik sejalan dengan naiknya harga bahan bakar minyak. Kecuali apabila
pemerintah memberikan lagi subsidi.
· Material yang paling mempengaruhi biaya Rawat adalah Pupuk, yang secara bertahap
terus naik sejalan dengan naiknya harga bahan bakar minyak. Kecuali apabila
pemerintah memberikan lagi subsidi.
· Barang-barang import seperti mesin-mesin dan peralatan serta suku-cadang, bahkan
juga Chemical yang belum diproduksi di dalam negeri, kenaikannya sangat dipengaruhi
oleh nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing.
juga Chemical yang belum diproduksi di dalam negeri, kenaikannya sangat dipengaruhi
oleh nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing.
· Material yang sudah di produksi di dalam negeri juga meningkat seiring dengan
kenaikan upah rata-rata
kenaikan upah rata-rata
2. Biaya Transport
Biaya Transport dipengaruhi secara langsung oleh kenaikkan harga bahan bakar minyak dan suku cadang serta jarak tempuh.
A. Kategori dan Karakteristik Biaya
Komponen Biaya dalam setiap Kategori di klasifikasikan menurut Karakteristiknya menjadi FIXED, VARIABLE dan SEMI-VARIABLE COST.
KATEGORI 1 : EX FACTORY COST
· Fixed Cost. Yang masuk dalam klasifikasi Fixed Cost adalah :
A. Rawat Tanaman Menghasilkan (TM), Biaya aktualnya per hektar atas seluruh komponen biaya yang muncul harus DI WASPADAI di perkebunan. Apabila tidak dilakukan kontrol yang ketat terhadap hasil kerja Rawat ini, maka beban biaya akan tetap sama. Artinya hasil kerja rawat nol, beban tetap ada. Fluktuasi Biaya rawat per hektar per tahun terutama di akibatkan oleh biaya pemupukan yang dilaksanakan berdasarkan hasil analisa daun.
B. Overhead, Biaya aktual overhead secara mayoritas adalah Fixed Cost, dengan pengecualian bagi Staf Pabrik termasuk teknisi Pabrik dimana beban gaji dan fringe benefit nya dibebankan secara langsung pada biaya pengolahan. Sementara itu gaji, dan social expenses untuk staf kebun dibebankan pada Overhead bersama-sama dengan komponen biaya lainnya seperti social expenses buruh harian, pensiun, pajak, asuransi dll. Untuk selanjutnya biaya aktual Overhead per hektar dapat dihitung berdasarkan luas kebun TM yang dikelola.
· Variable Cost, yang termasuk dalam klasifikasi Variable Cost adalah :
Panen dan Angkutan . Biaya Panen per Kg Tandan Buah Segar (TBS) adalah tergantung kepada Output tiap pemanen, gaji dan premi pemanen, Sedangkan biaya angkutan TBS tergantung kepada Output angkutan dan biaya operasi alat angkut (Truk atau Traktor). Total biaya panen dan angkutan per Kg TBS sangat bervariasi tergantung besarnya jumlah TBS yang di panen. Secara progresif biaya panen dan angkutan TBS per Kg TBS akan naik apabila upah panen naik dan biaya operasi alat transport juga naik.
· Semi-Variable Cost, yang termasuk dalam klasifikasi Semi-Variable Cost adalah :
Pengolahan dan Maintenance Pabrik. Kelompok biaya disini merupakan kombinasi antara Fixed Cost dan Variable Cost.
Yang termasuk Fixed Cost adalah : Gaji Teknisi, Maintenance Pabrik, Mesin dan Peralatan Pabrik, Limbah dan Administrasi.
Yang termasuk Variable Cost adalah : Semua biaya Pengolahan termasuk biaya operasi Power Plant dan peralatannya ( Upah buruh , Bahan Bakar Minyak dll)
Biaya Pengolahan sangat bervariasi antara satu Pabrik dengan Pabrik lainnya tergantung kondisi pabrik dan kapasitas pabrik. Throughput aktual, jumlah tenaga kerja serta Volume Palm Product ( CPO & Kernel) yang dihasilkan merupakan faktor penentu yang utama
KATEGORI II : CASH COST
Kategori Biaya yang termasuk dalam Cash Cost dapat di klasifikasikan sebagai Semi-Variable Cost. Dimana Kegiatan Despatch atau pengeluaran Produk dari pabrik ke Shipping Terminal dan Operasi Pengangkutan dari shipping Terminal ke tujuan termasuk dalam Variable Cost. Sementara itu biaya penjualan yang ada di Head Office adalah Fixed Cost
KATEGORI III : BOOK COST
Kategori Biaya disini adalah Fixed Cost, yang merupakan jumlah dari perhitungan Depresiasi Asset dengan persentase yang tetap sesuai kelas Asset.
Perusahaan perkebunan umumnya mengikuti klasifikasi dan Depreciation Rates sesuai ketentuan yang tercantum pada Pajak Penghasilan 1984, sebagai berikut :
a Bangunan
b Non- Bangunan
Kelas I : Memiliki umur kegunaan tidak lebih dari 4 Tahun
Kelas ll : Memiliki umur kegunaan lebih dari 4 tahun tapi kurang dari
8 tahun
Kelas lll : Memiliki umur kegunaan lebih dari 8 tahun.
Kelompok Bangunan di deoresiasi-kan menggunakan Straight Line Method, dengan rata-rata 5 % per tahun. Sedangkan Non-Bangunan, di depresiasi-kan menggunakan Double Declining Balance Method dengan rata-rata 50 % untuk kelas l ; 25 % untuk kelas ll dan 10 % un tuk kelas lll.
Semua biaya yang berkaitan dengan pembangunan perkebunan di kapitalisasi dan di klasifikasikan sebagai kelompok bangunan yang di depresiasi kan selama umur produktif tanaman ( +/- 20 tahun)
Secara sistimatik , Kategori dan Karakteristik Biaya dapat di ringkas dalam tabel berikut ini :
Kategori | Fixed Cost | Variable Cost | Semi - Cost Variable | |
Ex Factory Cost | Biaya Rawat TM Biaya Over Head | Biaya Panen dan Transport TBS | Biaya Olah Fixed : Variable : | Gaji dan Tunjangan Sosial untuk Teknisi Pemeliharaan & Administrasi Pengolahan |
Cash Cost | Biaya Head Office | Angkutan Palm Product | ||
Book Cost | Depresiasi | |||
C. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Biaya
Unit Biaya Produksi ditentukan oleh besarnya Output Produksi dan Input Biaya Produksi, sehingga terhadap kedua hal tersebut perlu selalu di analisa, faktor apa saja yang memberikan pengaruh baik positif maupun negatif.
· Faktor Internal
- Detil Latar Belakang Perkebunan
- Organisasi Internal(Ratio Tenaga Kerja vs luas Lahan, struktur organisasi, efisiensi)
- Skill Karyawan
- Cara kerja dan teknologi yang diterapkan di lapangan
- Infra Struktur
· Faktor Eksternal
- Kebijakan Pajak, Kontrol Biaya Pembelian Material
- Inflasi
- Jarak kebun ke pelabuhan
- Permintaan Pasar
Faktor Negatif dan Faktor Positif yang mempengaruhi kepada Produksi dan Biaya Produksi , secara sistimatis dapat dilihat pada tabel berikut.
Tingkat pengaruhnya dari semua faktor di atas terhadap produksi dan biaya produksi dapat turun atau naik dengan adanya inter-aksi antara berbagai faktor melalui intervensi kebijakan management untuk menjaga biaya pada level yang dapat dipertanggung jawabkan.
Namun bagaimanapun, management tentu tidak akan mampu menghilangkan semua faktor negatif yang ada terhadap produksi maupun biaya.
Faktor Negatif & Positif terhadap Produksi & Biaya
Faktor Negatif & Positif terhadap Produksi & Biaya
Faktor | Pengaruh | thd Produksi | Pengaruh | thd Biaya |
Negatif | Positif | Negatif | Positif | |
INTERNAL | ||||
Latar Belakang Kebun | Daerah Rendah dan sering tergenang | Daerah Datar hingga ber gelombang | Daerah Rendah dan sering tergenang | Daerah Datar hingga ber gelombang |
Curah Hujan < 1500 mm penyebab stress | Normal s/d tingginya curah hujan > 1500mm | Berbukit-bukit | - | |
Drainase buruk | Drainase baik | sering Hujan Deras | Iklim Normal | |
Organisasi | Organisasi yang tidak solid | Organisasi yang solid | ||
Kemampuan Personil | Kurang Terampil (Output Rendah) | Terampil (Output Tinggi) | ||
Tenik dan Teknologi | Bibit kurang baik tanaman sudah tua | Bibit unggul tanaman masih muda | tanaman tua – sudah sangat tinggi | Tanaman masih pendek |
Sering Terkena serangan Hama & Penyakit | Proteksi Tanaman terkelola baik | Sering Terkena serangan Hama & Penyakit | Proteksi Tanaman terkelola baik | |
Pabrik Tua (Efisiensi Rendah) | Pabrik baru (Efisiensi tinggi) | Pabrik Tua (Efisiensi Rendah) | Pabrik baru (Efisiensi tinggi) | |
Infrastruktur | Tidak cukup ada Jaringan jalan & kondisi buruk | Cukup ada Jaringan jalan & kondisi baik | ||
EXTERNAL | ||||
Kebijakan Pemerintah | Pajak dinaikan, Upah naik, banyaknya pungutan, tak ada subsidi | Subsidi kembali diberlakukan atau harga pupuk di kontrol | ||
Inflasi | Harga Barang naik | |||
Infrastruktur | Jarak tempuh kebun ke Pelabuhan jauh (biaya angkutan tinggi) | Jarak tempuh kebun ke Pelabuhan dekat (biaya angkutan rendah) | ||
Kebutuhan Pasar Naik | Permintaan terus naik | |||
Lampiran | ||||
TBM.0 (PERAWATAN 6 BULAN)
Subscribe to:
Posts (Atom)
